Rabu, 01 Februari 2017

Cinta?

Jatuh cinta kau para manusia
Mendusta takdir yang terukir
Melupa pencipta Maha Cinta
Kau tanggalkan hati yang kau miliki
Keindahan paras mengganggu pelupuk mata mu

Lalu, kau muram karena indahnya bukan milikmu
Fiktif kekonyolan birahi sementara

Satu dua tiga..
Detik kan terus berdetak
Entah kapan kau terbangun dari mimpi yang kau buat
Nyatanya, kau pun tak temukan lirih sesunggukannya dipagi buta

Merekah indah senyum wanita itu
Topeng terindah dalam kehidupannya

Selasa, 01 November 2016

Seketika Meragu

Perasaan.
Ya benar, tak terlihat namun dapat dirasa.
Apalah arti sesak serentak?
Sengajalah kubalutnya dengan tawa agar tak retak.
Ah, mungkin hanya sekedar jalan fikir ku mengarah salah.
Aku yakin.
Allah tak mungkin ingkar akan firman-Nya.
Jodoh takkan tertukar.

Wed, 2 Nov 2016 (12:40 AM)

Senin, 12 September 2016

Kepastian, Penantian

Semilir kabar tak sabar berkabar
Menjamu rindu yang terus bertamu
Rimpang seluk beluk pertemuan
Merengkuh kepastian dalam penantian

Bilamana barisan pernyataan ku yang berliku
Buatmu kaku bahkan menjauh seiring rapuh
Aku harap bukan itu yang terjadi padamu
Melainkan kau tersenyum, ungkapan keikhlasan

Adalah lakonisme yang unik hingga melankolik
Menjadi buah ketertarikan terbaik hingga saat ini
Aku harap bukan itu yang buat kau tak rindu
Melainkan kau tertawa, ungkapan kebahagiaan

Apabila aku, yang kau katakan si pengharap besar
Telah mengusik rima keseharianmu hingga kau jengah
Jadikanlah hal itu sebagai kekuatan terbesar
Hingga kepastian tercapai tanpa kau lelah

Kan ku temui kau dalam syahdu ku mengadu
Bersama sujud dipertengahan malam dan pagi
Hingga kau yakin bahwa halnya kini rindu
Kekalkan kau dan aku, dalam bait do'a dan tak pergi

Minggu, 04 September 2016

Mungkin

Mungkin,
Seharusnya aku tetap duduk manis bersama semangkuk khayal ku
Bertemankan segelas harap semu yang ia tuangkan ke dalam cawan ku

Lalu,
Mengapa kubiarkan seseorang meneguk sepenuh cawan harap ku?
Serta menikmati semangkuk hiruk pikuk khayal ku?

Aku nyaris saja kehilangan selera santap
Melihat segala hidangan menjadi tak sedap
Karena aku yakin kau yang buatnya lenyap
Hidangan ku telah kau lahap dalam sekejap

Kau telah mencuri ilusi tanpa permisi
Menukarnya dengan sesuap harap semu milikmu

Melalui,
Pesona lengkung senyum manis; bahagiamu
Binar teduh tatap kedua bola mata; tulusmu
Yang mana telah mengusir perlahan selera terdahulu
Yang ku percaya namun sesungguhnya telah berlalu

Mungkin,
Kau berniat untuk tinggal?
Atau nanti kan tinggalkan?
Diri ku tersenggal
Bersama harap yang kau tanggalkan

Tangerang, 4 September 2016

Senin, 15 Agustus 2016

Maaf

Maaf,
Ku seret kau ke pelataran ruang silam
Bukan maksud mengacak rangkaian malam
Hanya saja aku tak sanggup menyendiri sepi
Dibalik terali besi yang ku cipta rapi

Maaf,
Aku hanya ingin mengucap maaf
Aku harap kau pun dapat terima maaf
Sederet kesalahan yang terukir dalam memori
Janganlah jadikannya alasan kau tuk menyendiri

Bukan berarti paksa jua kau tuk kembali
Saat perbincangan masih menjadi candu
Sekali lagi aku hanya meminta kembali
Peran sebagai teman tanpa hati beradu

Maafkan aku..
Teman..

Minggu, 14 Agustus 2016

Bagai Angin Lalu

Setelah ku lewati hari-hari
Setelah ku jelajahi mimpi-mimpi
Ternyata kau ada disini
Menemani jiwaku yang sunyi

Sinar terangmu menebus merasuki sukmaku
Sinar terangmu redupkan amarah diriku
Sinar terangmu hidupkan bara cintaku
Hingga ku rasakan lagi rasa yang pernah hilang dahulu

Kau, tak pernah terlihat kau lengkapi
Kau lengkapiku perlahan namun pasti
Hingga hari ini ku merasa terlengkapi
Terlengkapi dan merasakan arti hidup sejati

Kau bagai angin lalu disetiap hariku
Berhembus mesra tuk iringi nafasku
Ku dapat rasakannya hingga merasuk rusuk didada
Meski tak terlihat, tak berarti tak ada

Karena kau ku dapat bangkit
Karena kau ku dapat melangkah
Hingga tak lagi ku rasakan sakit
Karena kau hapus lara juga gundah

Tangerang, 25 November 2012

Satu Titik Terang

Tersudut ku tak mampu bangkit
Tak bisa langkahkan kaki tuk berlalu
Peluh ku terus terjatuh karena sakit
Ia sang penuntun langkahku telah berlalu

Kelam hariku bagai hidup dikota mati
Suram rasaku bagai tak ingin hidup lagi
Dimana ia tak iringi langkahku lagi
Dimana ia tak terangi malamku lagi

Seketika ku pandang sekitar ku yang gelap
Muncul seberkas cahaya kecil yang indah
Bagai setitik bintang memancarkan senyum kepadaku
Bintang itu tak lelah terangi sisi gelap yang gundah

Perlahan satu titik terang itu kuatkanku
Perlahan ia tuntunku melaju dalam kelam
Terangi ku, bangkitkan ku, bujuk rayu diriku
Dan mengajakku tuk gapainya agar tenteram

Saat tak ku gapai tak ku sentuh
Ia paksa ku tuk menghampirinya dengan cara indah
Saat ku lelah ku resah ku musnah
Ia temani ku tuk menepi dan tak menyerah

Hingga akhirnya diriku menyerah
Hingga akhirnya diriku pasrah
Ku tak bisa terus disisi gelap ini
Ku kan terus ikuti cahayamu tanpa henti

Tangerang, 22 November 2012

© Cerita Hati | Blogger Template by Enny Law